Jogja : Tentang Sebuah Takdir

Senja pertama di Jogja.

Apakah kau tau? Bahwa aku tak pernah kecewa dengan senja. Bahkan pada saat dia menyuguhkan peristiwa menyedihkan sekaligus. Bahkan ketika senja membuatku harus menelan harap dalam-dalam. Tapi aku tetap saja suka padanya. Lewat semburat jingga yang membuat aku tenang dan mengenang.

Sama seperti sore kala itu. Di salah satu sudut senja aku kembali terpana. Saat untuk pertama kalinya aku melihat senja di sisi lain bumi ini, di Jogja

Ternyata benar, orang-orang tidak berbohong tentang senja di Jogja yang menghanyutkan siapa saja. Senja menghangatkan, memeluk muda-mudi dan siapa saja yang setia menantikannya.

Senja menjadi tempat pulang sebagian orang. Manakala lelah sudah menghampiri disebabkan aktivitas sepanjang hari. Senja menjadi tempat kenang sebagian orang, manakala pertemuan belum menjadi nyata. Senja pun menjadi harap bagi sebagian orang, manakala putus asa tak ada habisnya namun senja menjanjikan esok yang lebih baik.

Apa-apa yang menemani senja cukup membuatku terpana. Tapi aku bersyukur senja menjadi saksi atas takdirku kala itu.

Setelah transit dari Jakarta lalu mengudara di langit Jogja, aku tak merasa lelah. Jika dipikir-pikir seharian juga waktu kotor yang dibutuhkan dari Medan-Jogja. Tapi lagi-lagi ini adalah tentang takdir yang mendewasakan. Walau aku tau ini tidak mudah. Berkelana lebih dari sepekan di Kota baru dan dengan teman 'baru'.

Perjalanan menuju Jogja adalah representasi dari nyali yang tak terbayangkan. Saat aku memutuskan untuk berkata 'ya' pada teman yang belum lama ku kenal untuk ikut event di Jogja. Ajakan yang ku kira tak serius ternyata menjebakku untuk benar-benar terbang ke Jogja. Jika kau pikir aku ini gila, Yap aku juga merasa demikian. Bagaimana tidak? Jika perjalanan ini adalah tentang aku dan partner yang tidak aku ketahui pribadinya. 

Dan yang lebih parah lagi, akulah satu-satunya wanita di tim ini. Boom.

Coba kau bayangkan, bagaimana caranya membangun chemistry dengan laki-laki yang baru kau kenal? Sungguh aku hampir saja menyerah haha.

Tapi ini adalah bagian dari takdirku. Menyusuri jalanan Jogja dengan sosok yang menginspirasi. Menemukan jalan baru yang ku kira itu tidak bisa dijadikan sebuah jalan.

Dan senja adalah saksi setiaku dalam perjalanan ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JIKA KAMU

ALASAN UNTUK MENGELUH