Postingan

Menampilkan postingan dari 2020
Gambar
 Jogja : Tentang Sebuah Takdir Senja pertama di Jogja. Apakah kau tau? Bahwa aku tak pernah kecewa dengan senja. Bahkan pada saat dia menyuguhkan peristiwa menyedihkan sekaligus. Bahkan ketika senja membuatku harus menelan harap dalam-dalam. Tapi aku tetap saja suka padanya. Lewat semburat jingga yang membuat aku tenang dan mengenang. Sama seperti sore kala itu. Di salah satu sudut senja aku kembali terpana. Saat untuk pertama kalinya aku melihat senja di sisi lain bumi ini, di Jogja Ternyata benar, orang-orang tidak berbohong tentang senja di Jogja yang menghanyutkan siapa saja. Senja menghangatkan, memeluk muda-mudi dan siapa saja yang setia menantikannya. Senja menjadi tempat pulang sebagian orang. Manakala lelah sudah menghampiri disebabkan aktivitas sepanjang hari. Senja menjadi tempat kenang sebagian orang, manakala pertemuan belum menjadi nyata. Senja pun menjadi harap bagi sebagian orang, manakala putus asa tak ada habisnya namun senja menjanjikan esok yang lebih baik. Apa-...

JIKA KAMU

JIKA KAMU MENDAPAT PERTANYAAN SEPERTI INI, K AMU AKAN JAWAB APA? Malam ini seorang teman bertanya : “Kamu kalo suka dengan seseorang (lawan jenis) biasanya karena apa sih? Apa yang kamu lihat dari sosoknya?” Seketika pikiran ku menerawang jauh. Layar handphone kubiarkan berkedip lama. Aku bingung ingin menjawab apa. Jujur saja, Aku belum pernah sejatuh itu pada seseorang. Berada pada tingkatan kagum pada seseorang saja, sangat jarang kurasakan. Konon lagi itu rasa ‘suka’ lalu apa namanya, cinta? Sungguh ini pertanyaan yang cukup serius dan sangat sulit untuk dijawab. Aku tak ingin temanku salah dalam mengartikan cinta. Namun, pengalaman ku sangat nihil untuk dibagikan soal ini. Baiklah, akan ku coba pikirkan. Seperti apa kiranya seseorang yang dapat memikat hatiku. “Eum, gimana ya, mungkin orang yang perhatian dengan diriku”. Agak naif sebenarnya untuk menjawab ini. Wanita mana sih yang secara umum gak baper diberi perhatian sama seseorang. Sepertinya benar, Aku harus mulai m...

PENOLAKAN

Melisa Rinarki Harahap Setiap kita pasti pernah merasakan penolakan. Ditolak lamaran kerjanya. Ditolak permintaan maafnya. Ditolak kerja samanya. Ditolak permohonan dana untuk suatu kegiatan. Atau bahkan ditolak cinta dan   kehadirannya disisi orang lain. Dan masih banyak jenis penolakan lain yang mungkin menggores kekecewaan di hati.  Entah itu secara fisik maupun psikis. Entah itu secara langsung ataupun melalui kata-kata dan sindiran. Semua itu tetap dapat dikatakan menyakitkan. Sebenarnya tak ada yang salah dalam penolakan. Bahkan penolakan dapat menjadi kebenaran dan pilihan terbaik dalam beberapa hal. Seperti kisah Rasullulah yang diajak kafir Quraisy untuk bekerja sama dalam beribadah. Namun, Rasul menolak. Rasul memberikan penolakan yang sangat menyakitkan. Hingga Allah  Subhanahu wa ta’ala  menurunkan firman-Nya dalam surah Al-Kafiruun. “Lakum dii nukum waliyadiin” Untukmu agamamu dan untukku agamaku (Al-Kafirun : 6) Lantas, begitu juga ...